Siaran langsung Debat Calon Presiden Amerika Senator John McCain dan Barak Obama dari Oxford, Mississippi State hari ini disaksikan bersama di kampus UH, yaitu diSinclair Library’s Commons dalam Learning Area Tiga dan Campus Center. Terlihat beberapa mahasiswa dan staf UH serius menyaksikannya jalannya perdebatan yang berlangsung selama 1 jam lebih ini. Sesekali para penonton tertawa mendengarkan adu argumen kedua calon presiden dalam isu yang terkait dengan kebijakan ekonomi dan politik luar negeri. Tapi secara umum, sebagaimana dilaporkan oleh CNN, tidak ada isu yang diangkat dalam perdebatan oleh kedua pihak yang cukup signifikan dan bisa melahirkan 'pukulan-pukulan mematikan' dari salah satu pihak. Isu dan argumen yang diangkat belum sampai pada hal-hal yang benar-benar baru dan signifikan.Friday, September 26, 2008
Debat Calon Presiden Amerika: Nonton Bersama di Campus Center Hari ini
Siaran langsung Debat Calon Presiden Amerika Senator John McCain dan Barak Obama dari Oxford, Mississippi State hari ini disaksikan bersama di kampus UH, yaitu diSinclair Library’s Commons dalam Learning Area Tiga dan Campus Center. Terlihat beberapa mahasiswa dan staf UH serius menyaksikannya jalannya perdebatan yang berlangsung selama 1 jam lebih ini. Sesekali para penonton tertawa mendengarkan adu argumen kedua calon presiden dalam isu yang terkait dengan kebijakan ekonomi dan politik luar negeri. Tapi secara umum, sebagaimana dilaporkan oleh CNN, tidak ada isu yang diangkat dalam perdebatan oleh kedua pihak yang cukup signifikan dan bisa melahirkan 'pukulan-pukulan mematikan' dari salah satu pihak. Isu dan argumen yang diangkat belum sampai pada hal-hal yang benar-benar baru dan signifikan.Thursday, September 25, 2008
Catatan Kecil dari Global Roundtable-Indonesia Hari ini
Ada beberapa hal-hal yang dapat saya tangkap dari acara ini. (1) University of Hawaii punya keinginan dan kepentingan besar untuk menjadi kiblat studi Asia dan Pasifik, termasuk Asia Tenggara; (2) Ada isu budaya birokrasi antara beberapa pihak Indonesia dan UH yang selama ini pernah menjaring kerja sama dengan UH. UH ingin memiliki ikatan kerjasama dalam bentuk konkrit, bukan hanya sekedar tandatangan di atas sehelai kertas yang tidak memiliki dampak aksi riil antar kedua pihak; (3) UH punya ketertarikan untuk lebih banyak eksis dalam kajian masyarakat Muslim di Asia Tenggara, khususnya Indonesia; dan (4) Ikatan kerja sama antara UH dan Indonesia masih tergolong sangat lemah sehingga perlu ada langkah strategis dari kedua
belah pihak. Kerjasama yang ada selama ini masih lebih banyak terjadi pada tingkat inisiatif personal, belum ada dukungan politik secara kolektif.
Untuk mewujudkan kondisi seperti di atas, saya pikir, perlu kajian dan persiapan datang, tidak bisa hanya dengan mengandalkan kunjungan sesaat dan mendadak dari beberapa pejabat Indonesia. Mungkin dari sini terbayang pentingnya memiliki pusat kajian Indonesia dari berbagai aspek dalam lingkungan UH. Salah satu peserta Rountable dari Department of Engeneering menawarkan keinginannya untuk bekerjasama dengan pihak-pihak terkait di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Saturday, September 13, 2008
Ibu Barak Obama 'Hadir' dalam Diskusi tentang Disertasinya
Rangkaian acara seminar Fall 2008 Department of Women Studies, Universitas Hawaii dibukan dengan menghadirkan topik DR. Stanley Ann Dunham: An Extraordinary Woman and Her Work. Acara yang sedianya dilaksakan di salah satu ruangan dengan daya tampung 20 orang partisipan di Saunder Hall ini, karena banyaknya peminat, terpaksa dipindahkan ke gedung Business Administration yang dapat menampug kurang lebih 100 perserta. Sebelum acara dimulai, peserta sudah memenuhi ruangan sehingga harus ada yang berdiri karena tidak mendapatkan kursi.
Thursday, September 11, 2008
Nusantara Society & Indonesian Club Turut Memeriahkan RIO Fair 2008
Sunday, August 31, 2008
Extended, Papers for Aceh's Conference 2008
Acknowledging the difficulties of a graduate student regime and in order to encourage more submissions, we are extending the deadline for submission of full papers.
We will now accept papers until the midnight of 8th September 2008.
The format is not binding in terms of page limit though a normal font size of 12 points and single spacing is indeed preferable. For the sake of uniformity we suggest the MLA style for citations
Again submissions are not mandatory and may be tured in to this mailbox as an attachment ONLY if you are interested in competing for the prizes. Awards will be adjudged on the strength of the printed versions of your final papers and not on the presentation in the conference.
If you have already submitted your final paper please ignore this message.
See you in seventh weeks from now!
Best regards
--
Local Arrangements Committee- Aceh's Conference 2008
c/o Center for Southeast Asian Studies, University of Hawaii at Manoa
1890 East-West Road Moore Hall 416, Honolulu, Hawai'i 96822 USA
Tel. 808-722-6184 (Erenst) or 808-542-2497 (Ari)
Fax: +1 808 956 2682
Monday, August 25, 2008
International Conference and Cultural Event (ICCE) of Aceh 2008: Call for Papers and Proposals
As an interdisciplinary conference, we welcome applications from international graduate students engaged in research on topics: Natural Disaster, Conflict Resolution, Peace Building, Islam and Democracy, Disaster Management, Peace Building, Ethnic Identity and Culture, and Recovery and Development; enclosed by the theme, “Beyond Tsunami: The Aceh Experience and International Application”
The general tentative agenda of the event includes:
THE TENTATIVE AGENDA
Saturday, September 20, 2008
1:00 – 1:30pm Opening Exhibition: “Aceh Visual Retrospective”
Evening
7:30pm – 9:30pm 1st Screening Movie and Discussion (the program will continue the following weeks till October 18, 2008)
Monday, October 20, 2008
9:00am – 5:00am Field Trip to the Historical site in Hawaii
Tuesday, October 21, 2008
9:00 – 9:40am Opening Remarks
9:30 – 9:40am Acehnese art performing “Rapa’i Geleng”
9:40 – 12.00am Seminar and Dialog I
12:10 – 2:00pm Lunch Break
2:00 – 5:00pm Seminar and Dialog II
Evening
7:30pm – 9:30pm International Indonesian-Acehnese Students Forum I
(Workshop and Leadership Development Program for Indonesian-Acehnese Students)
Venue: Korean Studies Auditorium
5:00 – 7:00pm Conference Dinner
Presents:
• “Holoku”, Hawaian dance
• “Pho”, Acehnese ritual ceremony and dance
Wednesday, October 22, 2008
8:30 – 10:30am International Graduate Students Conference
10:30 – 10:45am Coffee Break
10:45 – 12:45am International Graduate Students Conference
12:45 – 2:00pm Lunch Break
2:00 – 5:00pm International Indonesian-Acehnese Students Forum II
Evening
6:00 – 9:00pm Potluck
Thursday, October 23, 2008
7:30 – 9:30pm Special Performing Arts “DANCE FROM ACEH”
(Invited by the EWC, Honolulu, Hawaii)
The venue of the event will mainly be at the Hawaii Imin Conference Center at Jefferson Hall (http://www.eastwestcenter.org/about-ewc/conference-center/).
A group of graduate students and scholars can also propose to organize a special session of their specific interest on research about Aceh. The organizer will try their best to accommodate any proposed special session into the overall agenda of the conference. However, it is strongly recommended that funding for such session to be borne or secured by those who propose them.
Presentations are 20 minutes long and will be followed by 10 minutes of discussion. The paper and proposal must include a 200 to 250 word maximum abstract. Student’s contact information including: full name, university affiliation, field(s), and a current email address, should be at the top of every document submitted.
Abstracts should demonstrate a clear focus or statement of the problem, a coherent argument, knowledge of previous research, and a statement of the implications for the selected ICCE of Aceh 2008’s theme.
The online and postmark deadline for submission of Abstract is Sunday, August 31, 2008 (Extended)
Address for submissions:
*Online: acehconf@gmail.com
*Postal mail:
LAC - Aceh Conference
c/o Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), UHM
1890 East-West Road, Moore Hall 416, Honolulu, Hawai'i 96822 USA
The organizer is unable to offer funding for transportation and accommodations. Please contact your home institution for available funds. The organizer, however, will provide an official invitation letter for those who need it.
Three scholarships from Aceh Relief Fund (www.acehrelief.org), in the form of travel reimbursement of $500 each will be awarded to three best graduate student papers. In order to be considered for the scholarship, full papers must be submitted by Monday, September 8, 2008. (Extended).
No-shows inconvenience the chair, discussant, fellow panelists, and audience members attending the session. Participants who discover they are unable to attend the meeting should notify the LAC chair and acehconf@gmail.com immediately.
Travel and Lodging
Shuttle Bus or Taxi takes about 25 minutes from Honolulu airport to the conference housing at the site of the main conference venue: 1601 East-West Road, Honolulu, Hawaii 96848 USA;
Tel. +1 808 944 7805
A limited number of rooms are available for conference accommodation. Please reserved immediately and check the following link for the detail information about the conference accommodation. (http://www.eastwestcenter.org/about-ewc/housing/conference-housing/)
Participant may also check the available lodging in the close vicinity to the conference’s venue through the link: http://www.citytowninfo.com/places/hawaii/honolulu/travel
For information about Honolulu airport and transportation, please check the following website:
http://www.honoluluairport.com/
The local Arrangements Committee for this event is working in cooperation with several organizations and in Honolulu to ensure its success. This included the Hawaii chapter of the Indonesian Students Association (PERMIAS), the East-West Center arts and education programs, the Center of Southeast Asian Studies at the University of Hawaii at Manoa, Southeast Asia Program at Cornell University, and the Indonesian Embassy and Consulate in the United State.
The event invites speakers whose expert in their fields to share their expertise and experience during their involvements rebuilding Aceh. Students are expected to appreciate and take advantage the information shared throughout this conference. At the end of the meeting, it is expected that the primary host of this event, the collaboration of over ten international Acehnese student associations, will form an Aceh Studies Association to endorse a wider opportunity for research and academic activities.
For questions about local arrangements, please contact:
+1 808-944-6105 or 808-542-2497 (Ari)
or email: acehconf@gmail.com
Sunday, August 24, 2008
Teguh Serahkan Tongkat Estafet Pada Sulaiman
Di penghujung perayaan HUT ke-63 Republik Indonesia, ketua Permias Hawaii priode 2007-2008 Teguh Santosa menyampaikan laporan akhir masa tugas.
Dalam laporan setebal 11 halaman itu Teguh menguraikan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan Permias Hawaii dalam setahun terakhir.
Keterangan foto: Empat ketua Permias Hawaii, dari kiri ke kanan, Saiful Umam (2005-2006), Mohammad Anshori (2006-2007), Teguh Santosa (2007-2008), dan Sulaiman (2008-2009).
"Saya meletakkan fleksibilitas sebagai prinsip utama dalam menjalankan roda organisasi. Saya percaya bahwa Permias Hawaii adalah organisasi yang dibangun dan digerakkan oleh para volunteers yang bersedia membagikan waktu dan tenaga mereka—di tengah kesibukan studi yang harus tetap diletakkan pada prioritas pertama—untuk masyarakat Indonesia di Hawaii.
Dalam organisasi berkarakter seperti ini, menurut hemat saya, yang dibutuhkan adalah kemampuan “pengurus inti” untuk merangkul dan melibatkan semua pihak dalam berbagai kegiatan.
Adapun saya sebisa mungkin berusaha menjadi playmaker, fasilitator dan moderator, yang memberikan kesempatan kepada serta mendorong dan mengundang anggota Permias Hawaii untuk terlibat dalam kegiatan, baik kegiatan yang bersifat internal (yang hanya melibatkan mahasiswa) maupun kegiatan yang melibatkan masyarakat Indonesia di Hawaii," tulis Teguh dalam laporannya.
Dia juga mencatat dua pekerjaan besar yang masih tersisa. Pekerjaan pertama berkaitan dengan gagasan mendirikan Indonesian Cultural Center di Hawaii.
Gagasan yang telah berkembang sejak beberapa tahun terakhir ini, sebut Teguh, telah disampaikannya ke banyak pihak, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Komisi I DPR Theo Sambuaga dan Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman.
"Gagasan ini menurut hemat saya harus terus dikumandangkan. Bila tidak pada periode ini, saya yakin pada periode-periode selanjutnya gagasan ini akan dapat terwujud," demikian Teguh.
Adapun pekerjaan kedua berkaitan dengan seminar internasional mengenai rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh yang akan digelar bulan Oktober mendatang.
"Saya berharap, pengurus Permias Hawaii yang akan datang tetap melanjutkan kegiatan ini
sampai selesai," demikian Teguh.
Usai laporan pertanggungjawaban Teguh, panitia menggelar pemilihan ketua Permias Hawaii periode 2008-2009. Sulaiman, mahasiswa program S-3 jurusan sosiologi, University of Hawaii akhirnya keluar sebagai pemenang. Pria asal Makassar yang baru beberapa minggu tiba di Honolulu mengalahkan dua saingannya Luki dan Agus dari BYUH. Dalam pemilihan itu yang dilakukan di bawah pepohon rindang Kapiolani Park, Sulaiman memperoleh 14 suara, diikuti Luki (8) dan Agus (4).
Serah terima jabatan dan pengumuman kabinet Permias Hawaii 2008-2009 akan dilakukan dalam pekan ini.
Laporan Ketua Permias Hawaii 2007-2008
Anggota Permias Hawaii dan masyarakat Indonesia di Hawaii yang saya hormati. Dalam kesempatan ini izinkan saya menyampaikan laporan mengenai beberapa hal yang telah dilakukan pengurus Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) Hawaii periode 2007-2008.
Secara umum laporan ini terdiri atas tiga bagian utama, meliputi bidang organisasi, bidang kegiatan dan bidang keuangan.
The Root of Playmaker
Tidak seperti susunan pengurus Permias Hawaii—paling tidak—pada dua periode sebelumnya, susunan pengurus Permias Hawaii 2007-2008 memang didesain ramping.
Saya meletakkan fleksibilitas sebagai prinsip utama dalam menjalankan roda organisasi. Saya percaya bahwa Permias Hawaii adalah organisasi yang dibangun dan digerakkan oleh para volunteers yang bersedia membagikan waktu dan tenaga mereka—di tengah kesibukan studi yang harus tetap diletakkan pada prioritas pertama—untuk masyarakat Indonesia di Hawaii.
Dalam organisasi berkarakter seperti ini, menurut hemat saya, yang dibutuhkan adalah kemampuan “pengurus inti” untuk merangkul dan melibatkan semua pihak dalam berbagai kegiatan.
Adapun saya sebisa mungkin berusaha menjadi playmaker, fasilitator dan moderator, yang memberikan kesempatan kepada serta mendorong dan mengundang anggota Permias Hawaii untuk terlibat dalam kegiatan, baik kegiatan yang bersifat internal (yang hanya melibatkan mahasiswa) maupun kegiatan yang melibatkan masyarakat Indonesia di Hawaii.
Setidaknya, itu peranan saya yang saya bayangkan selama setahun memimpin Permias Hawaii. Perihal apakah pada praktiknya saya dapat dikategorikan sebagai playmaker yang baik, playmaker yang buruk, atau tidak jadi apapun, saya serahkan kepada semua anggota Permias Hawaii dan masyarakat Indonesia di Hawaii yang juga menjadi stakeholder organisasi ini.
Saya terpilih sebagai ketua Permias Hawaii 2007-2008 pada tanggal 25 Agustus 2007. Sementara pengurus Permias Hawaii 2007-2008 diresmikan pada tanggal 6 September 2007 bersamaan dengan “serah terima jabatan” dari ketua Permias Hawaii 2006-2007, Sdr. Mohammad Hasan Anshori, kepada saya di lounge lantai 9 Hale Manoa.
Pengurus Permias Hawaii 2007-2008 terdiri dari:
Ketua : Teguh Santosa
Sekretaris : Nihayatul Wafiroh
Bendahara : Linda Moata
Kord. Kegiatan : Rahmawati
Kord. Budaya : Erda Rindrasih
Dalam masa setahun ini, kami juga telah mencatatkan Permias Hawaii sebagai anggota Registered Independent Organization (RIO) di University of Hawaii at Manoa. Mengingat berbagai persyaratan RIO (terutama yang berkaitan dengan sifat keanggotaan dan kegiatan) maka kami mencatatkan Permias Hawaii dengan nama Nusantara Society.
Sayangnya, berbagai fasilitas yang mestinya bisa diperoleh anggota RIO belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Perlu juga saya sampaikan, bahwa selain Nusantara Society yang merupakan organisasi mantel Permias Hawaii, ada satu lagi organisasi independen di UHM yang dimotori oleh mahasiswa Indonesia, yakni Indonesian Club. IC diorganisir oleh mahasiswa Indonesia di South East Asian Study sebagai wadah bagi para peminat keindonesiaan untuk mengetahui lebih banyak hal mengenai Indonesia di luar text books dan class rooms.
Foods Steps
Kegiatan Permias Hawaii 2007-2008 dibuka dengan mengikuti East West Center Participants Association (EWCPA) International Potluck pada tanggal 8 September 2007. Bagi saya ini adalah ujian pertama. Di tengah kelesuan menyusul konflik internal di era sebelumnya (maaf bila hal ini dianggap sebagai penilaian yang berlebihan dan tidak pada tempatnya), saya berusaha membangkitkan semangat anggota Permias Hawaii.
Namun sejujurnya, menurut saya, kalau pun layak disebut sebagai ujian pertama, EWCPA International Potluck adalah ujian yang terbilang mudah. Mudah, bukan karena saya mampu menggerakkan anggota Permias Hawaii untuk “turun ke jalan”, tetapi mudah karena daya tarik kegiatan yang diselenggarakan EWCPA ini memang cukup tinggi. Saya curiga, tanpa pengurus Permias Hawaii sekalipun, mahasiswa Indonesia, khususnya yang belajar di UHM dan menetap di Hale Manoa dan Hale Kuahini, akan dengan senang hati terlibat pada acara ini.
Yang jelas, apapun motif utama yang menggerakkan anggota Permias Hawaii (baca: mahasiswa Indonesia) dalam kegiatan itu, faktanya sate ayam dan nasi kuning yang dimasak secara gotong royong berhasil menduduki tempat teratas, menyingkirkan semua makanan saingan. Permias Hawaii pun diganjar sekarung beras oleh panitia.
Ujian pertama yang sesungguhnya bagi pengurus Permias Hawaii 2007-2008, menurut hemat saya, terjadi di bulan Oktober 2008 bersamaan dengan bulan Ramadhan 1428 H. Tanggal 7 Oktober 2008 Permias Hawaii menggelar acara buka puasa bersama dan ramah tamah di Tokai University, Kapiolani Boulevard. Kegiatan itu terutama ditujukan untuk menyambut kunjungan Dutabesar RI untuk Amerika Serikat Sudjanan Parnohadingrat dan Konjen RI di Los Angeles Subijaksono Sujono ke Hawaii.
Secara pribadi saya sangat terkesan dengan kesediaan anggota Permias Hawaii dan bantuan yang diberikan masyarakat Indonesia dalam kegiatan itu. Dalam kesempatan itu, seorang guru tari dari Bali, I Nyoman Sumandhi, menampilkan “tari topeng” Bali. Sementara Christine Hoe menambah afdhal pertemuan dengan tarian Hula. Makanan Indonesia juga turut mendominasi ramah tamah malam itu.
Tanggal 20 Oktober 2007, Permias Hawaii kembali menggelar gathering dengan masyarakat Indonesia di Magic Island, Honolulu. Kali ini pertemuan dilakukan berkaitan dengan halal bi halal Lebaran 1 Syawal 1428 H. Sekitar 100 anggota masyarakat Indonesia hadir dalam kegiatan itu.
Kegiatan lain yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat Indonesia adalah Indonesian Night 2008 bersama Menteri Riset dan Teknologi RI Kusmayanto Kadiman pada tanggal 30 Maret 2008 di Center for Korean Studies, UHM. Merujuk namanya, kegiatan ini digelar sebagai, katakanlah, pengganti kegiatan sejenis itu (yang memiliki skala lebih besar) pada tahun-tahun sebelumnya.
Dalam Indonesian Night 2008, Permias Hawaii mengundang sejumlah Indonesianis untuk berbicara mengenai Indonesia dan keindonesiaan. Mereka yang menjadi pembicara tamu mendampingi Menristek Kusmayanto adalah Prof. Alice Dewey dari Department of Anthropology, Prof. Fieldman dari Department of Urban and Regional Planning, dan Dr. Ehito Kimura dari Department of Political Science. Konsuler bidang Pendidikan KJRI Los Angeles Agusti Anwar juga memberikan kata pengantar dalam kegiatan itu.
Indonesian Night 2008 juga dimeriahkan penampilan tari Ratuh Doek yang dibawakan mahasiswa Indonesia di UHM dan Brigham Young University-Hawaii (BYUH), dan tentu saja, lagi-lagi Indonesian foods.
Kehadiran tamu-tamu adalah sesuatu yang ikut mewarnai perjalanan Permias Hawaii sepanjang periode 2007-2008. Tamu yang mengunjungi Hawaii dan selanjutnya bertemu dengan mahasiswa dan masyarakat Indonesia beragam. Mulai dari pejabat negara, seperti Dubes RI dan Konjen RI, juga Menristek RI yang telah disebutkan di atas, serta anggota Komisi I DPR RI (berkunjung tanggal 23 April 2008), sampai peneliti dan mahasiswa dari kampus lain di luar Hawaii.
Tanggal 30 Oktober 2007, misalnya, Assistant Professor dari Arizona State University, Merlyna Lim berkunjung ke “markas sementara” Permias Hawaii. Atau pada tanggal 27 Februari 2008, Permias menerima kunjungan Prof. Hardinsyah dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Dr. Bakhtiar dari Bina Nusantara (Binus) yang sedang mengikuti kegiatan di EWC.
Sebelumnya tanggal 31 Januari 2008 Permias Hawaii menerima kunjungan Masnellyati Hilman, Ketua Delegasi Indonesia pada Major Economies Meeting on Energy Security and Climate Change.
Sepanjang summer yang lalu pun Permias Hawaii tak henti menerima tamu dari Indonesia yang mengunjungi Hawaii untuk berbagai keperluan, seperti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, dan dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Hawaii Forum
Saya ingin menempatkan “Hawaii Forum” secara khusus dalam laporan akhir ini. Hawaii Forum adalah nama yang dipilih untuk sebuah kegiatan serial diskusi akademik-tematik yang untuk sementara baru bisa dilaksanakan di kalangan mahasiswa UHM.
Dalam Hawaii Forum mahasiswa Indonesia yang akan menyelesaikan pendidikan diberi kesempatan untuk mempresentasikan (sebisa mungkin) materi studinya. Di sisi lain mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada bidang studi lain berkesempatan mempelajari bidang studi yang dipresentasikan tersebut. Saya menilai ini adalah forum akademis yang layak untuk diteruskan di masa mendatang. Rincian kegiatan Hawaii Forum dapat dilihat dalam tabel kegiatan.
Dari Poco-poco sampai Ratoh Duek
Seperti telah dikembangkan sejak lama, kegiatan seni budaya menjadi salah satu unggulan Permias Hawaii. Periode 2007-2008 dibuka dengan latihan tari Poco-poco untuk dipentaskan pada EWCPA Concert on the Lawn tanggal 6 Oktober 2007, disusul penampilan di Lion Bar atas undangan Lion Rotary Club di Honolulu pada tanggal 12 Oktober 2007.
Adapun tari Ratoh Duek pada periode 2007-2008 dipentaskan pertama kali di Punahou School dalam kegiatan Islamic Festival tanggal 23 Februari 2008, disusul penampilan pada UHM International Night tanggal 15 Maret 2008 dan Indonesian Night 2008 tanggal 30 Maret 2008 yang ditampilkan oleh tim UHM dan BYUH. Sebelumnya, mahasiswa Indonesia di BYUH juga sempat menampilkan tari Ratoh Duek di BYUH.
Mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing di Hale Manoa juga sempat berlatih tari Kecak di bawah asuhan I Nyoman Sumandhi. Latihan tari Kecak diadakan secara reguler di Friendship Circle Hale Manoa setiap hari Sabtu, antara bulan November 2007 hingga Januari 2008.
Selain tari-tarian, film-film Indonesia juga menjadi objek seni budaya yang diperkenalkan Permias Hawaii, setidaknya pada komunitas internasional di Hale Manoa. Bekerjasama dengan EWCP, pada tanggal 21 dan 22 Maret 2008 Permias Hawaii memutar masing-masing film “Berbagi Suami” (Love for Share) dan “Arisan” (Gathering) di ruang baca Hale Manoa. Beberapa pekan kemudian, EWCPA memutar film “Denias, Nyanyian di Atas Awan.”
Indonesian Cultural Centre
Saya menilai sudah sepatutnya bila di Hawaii berdiri sebuah pusat kebudayaan Indonesia yang dapat dijadikan referensi bagi para peminat keindonesiaan. Barangkali selama ini ada pandangan keliru mengenai posisi Hawaii dalam peta budaya dunia. Mungkin sekali sejauh ini Hawaii baru dipahami sebagai pusat wisata dan turisme.
Padahal faktanya, Hawaii adalah titik pertemuan begitu banyak kebudayaan di muka bumi ini.
Mendirikan pusat kebudayaan Indonesia di Hawaii menurut kami dapat diartikan sebagai upaya “menghadirkan” Indonesia di tengah miniatur dunia ini. Pusat kebudayaan Indonesia mestilah dapat menjadi tempat rujukan bagi para peminat Indonesia dan keindonesiaan, selain tentu saja menjadi ruang publik yang cukup memadai. Kira-kira, Indonesian Cultural Center dalam benak saya mendekati atau menyerupai pusat kebudayaan negara lain, seperti CCF milik Prancis, atau Goethe milik Jerman yang ada di banyak kota di tanah air. Juga Theater Utan Kayu di Jakarta.
Inilah gagasan sederhana yang kerap saya sampaikan bila bertemu dengan pejabat Indonesia. Hal ini pertama kali saya sampaikan kepada Dubes RI dan Konjen RI Los Angeles dalam ramah tamah dan buka puasa bersama seperti yang sudah disampaikan di atas. Dalam kesempatan berikutnya, tanggal 18 Januari 2008 saya berkesempatan menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres di Jakarta. Dalam pertemuan resmi itu, saya pun tak lupa menyampaikan gagasan sederhana ini.
Gagasan itu pun saya sampaikan kepada Menristek Kusmayanto, juga kepada delegasi Komisi I DPR RI. Semua pihak yang mendengarkan gagasan mengenai Indonesia Cultural Center itu menyatakan setuju dan sependapat. Namun, karena satu dan lain pertimbangan, mereka belum merasa bahwa pusat kebudayaan Indonesia di Hawaii merupakan program yang bersifat mendesak untuk segera dilaksanakan.
Gagasan ini menurut hemat saya harus terus dikumandangkan. Bila tidak pada periode ini, saya yakin pada periode-periode selanjutnya gagasan ini akan dapat terwujud.
Selanjutnya, perincian kegiatan Permias Hawaii 2007-2008 dapat dilihat dalam tabel berikut.
1. August 25, 2007
Perayaan 17 Agustus dan Pemoilihan Ketua Permias Hawaii
Kapiolani Park, Waikiki
Teguh Santosa terpilih sebagai Ketua Permias Hawaii 2007-2008.2. September 6, 2007
Serah terima dari Ketua Permias 2006-07 kepada Ketua Permias 2007-08, pengumuman kabinet Permias 2007-08, dan pembubaran Panitia Perayaan 17 Agustus
Hale Manoa 9th floor lounge
Pembahasan beberapa usul kegiatan.3. September 8, 2007
EWCPA International Potluck Party
Friendship Circle, EWC
First Winner. Mempersembahkan sate ayam dan nasi kuning.4. September 26, 2007
Terdaftar sebagai anggota RIO (Registered Independent Organization) in the UHM
Campus Center 2nd floor
Beberapa pengarahan yang berhubungan dengan fasilitas yang diterima anggota RIO5. October 6, 2007
EWCPA Concert on the Lawn
Friendship Circle, EWC
Menampilkan tari Poco-poco.6. October 7, 2007
Pertemuan Dubes RI Sudjanan Parnohadingrat dan Konjen RI Subijaksono Sujono dengan masyarakat Indonesia di Hawaii
Tokai Univ., Kapiolani Boulevard
Buka puasa bersama, ramah tamah, diskusi, dan cultural performance (Special Performer: I Nyoman Sumandhi).7. October 12, 2007
Undangan dari Lion Rotary Club
Lion Bar, Honolulu
Poco-poco Performance8. October 20, 2007
Halal bi Halal Lebaran bersama masyarakat Indonesia
Magic Island
Dihadiri sekitar 100 warga Indonesia di Hawaii.9. October 30, 2007
Diskusi dengan Merlyna Lim, Assistant Professor Arizona State University
Hale Manoa 6th floor lounge
Tema: Space and Politics in Indonesian Contemporary10. November 2, 2007
Hawaii Forum.
Presenter: Bambang Hariyadi, Tema: Pengetahuan Lokal, Makanan Tradisional, dan Ketahanan Pangan.
Hale Manoa 9th floor lounge11. January 18, 2008
Bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta
Delegasi Permias Hawaii diwakili Teguh Santosa dan Ahmad Ubaedillah. Dalam pertemuan, Permias Hawaii menyarankan agar pemerintah Indonesia mendirikan Indonesian Cultural Center di Hawaii.January 24 – February 3, 2008
Fund Rising organized by Indonesian Club
Halaman depan Kennedy Theater
Membantu pengumpulan dana untuk Indonesian Club.12. January 31, 2008
Ramah Tamah dengan Delegasi Indonesia pada Major Economies Meeting on Energy Security and Climate Change di Imin International Conference, EWC
Hale Manoa 6th floor lounge
Ketua delegasi Indonesia, Masnellyati Hilman, menjelaskan hasil-hasil pertemuan dan kebijakan pemerintah dalam menghadapi pemanasan global.13. February 2, 2008
Pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Birgham Young University-Hawaii (BYUH)
Hale Manoa 6th floor lounge
Membahas beberapa kegiatan dan rencana art performances di BYUH14. February 9, 2008
Piknik Yuk organized by Indonesian Club
Magic Island, Honolulu
Silaturahmi dan ramah tamah dengan Indonesian Club.15. February 14, 2008
Hawaii Forum
Presenter: Bekti dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Tema: Global Warming dan kesiapan teknologi BMG dalam menghadapinya.
Hale Manoa 6th floor lounge16. February 23, 2008
Islamic Festival
Punahou School, Honolulu
Ratuh Duek Performance17. February 27, 2008
Ramah Tamah dengan Prof. Hardinsyah, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan istri, serta Dr. Bakhtiar, Bina Nusantara (Binus)
Hale Manoa 6th floor lounge18. March 1, 2008
Latihan Ratuh Duek bersama UHM-BYUH di kampus BYUH disambung jalan-jalan ke Polynesian Cultural Center (PCC)19. March 7, 2008 Shangri-La Tour, Diamond Head
20. March 15, 2008
UHM International Night at Campus Center Ballroom
Ratuh Duek Performance, Indonesian Booth21. March 21, 2008
Indonesian Movie: “Berbagi Suami (Love for Share)” at Hale Manoa’s Reading Room22. March 22, 2008
Indonesian Movie: “Arisan (The Gathering)” at Hale Manoa’s Reading Room23. March 30, 2008
Indonesian Night 2008 bersama Menristek Kusmayanto Kadiman
Center for Korean Studies, UHM
Guest Speakers:
Prof. Alice Dewey
Prof. Fieldman
Dr. Ehito Kimura
Agusti Anwar (KJRI)24. April 12, 2008
Hawaii Forum
Pembicara: Pramono U. Tanthowi, Tema: Islam, Civil Society, and Democratization
Agung Nugroho, Tema: Conserving Sumatran Tiger: Ecological and Cultural Aspect
Hale Manoa 9th floor lounge25. April 15, 2008
Ramah Tamah dengan Direktur IIEF Dr. Irid Agoes
Lincoln Hall, EWC26. April 19, 2008
EWCPA Cultural Day
Friendship Circle, EWC
Indonesian Fashion Show and Indonesian Booth.27. April 23, 2008
Ramah Tamah dengan anggota DPR-RI; Theo Sambuaga, Marzuki Darussman, Antarini Malik, Abdillah Toha, Djoko Susilo, Tosari Wijaya, Ujiati Tosari Wijaya
Hale Halawai, EWC
Membahas sejumlah permasalahan yang dihadapi Indonesia, seperti masalah pertahanan, politik lokal serta ketahanan ekonomi, pangan dan kehutanan.28. May 4, 2008
Permias Ngebeach
Magic Island, Honolulu
Menandai akhir Spring 2008 Semester. Perpisaahan dengan beberapa mahasiswa yang telah menyelesaikan studi.29. May 16, 2008
UHM Graduation and Commencement
Beberapa mahasiswa Indonesia menyelesaikan studi dan kembali ke tanah air.30. May 29, 2008
Mengunjungi alumni Permias Hawaii Hidayah Muhallim di Makassar, Indonesia
Teguh Santosa yang kebetulan berada di Makassar berkunjung ke kediaman Hidayah.31. Aug 23, 2008
Perayaan HUT ke-63 Republik Indonesia
Kapiolani Park, Honolulu
Sekaligus menandai berakhirnya masa tugas pengurus Permias Hawaii 2007-2008.
Masih berkaitan dengan kegiatan. Permias Hawaii 2007-2008 masih memiliki satu “utang kegiatan”, yakni International Conference and Cultural Event (ICCE) of Aceh 2008 yang menurut rencana akan digelar sejak pertengahan September hingga pertengahan Oktober yang akan datang. Permias Hawaii menjadi co-organizer kegiatan tersebut bersama the International Achenese Students and Associations yang dimotori Ari Palawi.
Tema utama yang diusung seminar internasional ini berkaitan dengan proses pembangunan kembali Aceh setelah masa tugas Badan Rekonstruksi dan Rehabilitas (BRR) yang mengkoordinir proses pembangunan kembali Aceh pascatsunami Desember 2004 berakhir bulan April lalu.. Kami menilai, proses rekonstruksi dan rehabilitas Aceh harus tetap dilanjutkan, dan sudah menjadi kewajiban kita, terutama komunitas akademik Indonesia, memberikan sumbangan pikiran terhadap proses pembangunan itu. Mahasiswa dari berbagai universitas di Amerika Serikat, Australia dan Eropa akan diundang untuk menghadiri kegiatan ini, begitu juga beberapa pembicara dari tanah air.
Saya berharap, pengurus Permias Hawaii yang akan datang tetap melanjutkan kegiatan ini sampai selesai.
Laporan Keuangan
Posisi keuangan Permias Hawaii 2007-2008 telah dicatat dengan begitu rapi oleh bendahara Permias Hawaii Linda Moata. Saya melampirkan catatan itu dalam lembar terpisah. Secara umum catatan keuangan tersebut dibagi tiga, meliputi laporan keuangan bulan September hingga Desember 2007, bulan Januari hingga Agustus 2008, dan bagian akhir merupakan rekapitulasi laporan keuangan yang saya muat berikut ini:
Penerimaan
a. September-Desember 2007 $2,699.81
b. Januari-Agustus 2008 $1,840.00
Total $4,549.81
Pengeluaran
a. September-Desember 2007 $1,259.54
b. Januari-Agustus 2008 $1,950.41
Total $3,209.95
Saldo kas
Total penerimaan $4,549.81
Total pengeluaran $3,209.95
Saldo kas Permias Hawaii 2007/2008 $1,329.86
Penutup
Kini tibalah saya pada bagian penutup laporan akhir masa jabatan ini.
Dengan setulus hati, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan semua anggota Permias Hawaii wa bil khusus pengurus Permias Hawaii; Ninik, Linda, Rahma dan Erda. Tanpa peran serta semua anggota Permias dan teman-teman yang bersedia mengorbankan waktu dan energinya sebagai pengurus, saya kira Permias Hawaii 2007-2008 hanya akan menjadi macan ompong.
Tak lupa, bahkan tentu saja, terima kasih sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada masyarakat Indonesia di Hawaii yang telah bersedia membantu saya dan pengurus Permias Hawaii 2007-2008. Bagi saya pribadi, menetap di Hawaii untuk waktu yang terbatas ini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Dan, masyarakat Indonesia di Hawaii, keluarga besar saya, menjadi penyempurna pengalaman luar biasa itu. Saya berdoa ke hadirat Illahi, agar silaturahmi kita ini tidak berhenti dan terus berlanjut sampai nanti.
Sekali lagi, mahalo much.
Honolulu, 23 Agustus 2008
Teguh Santosa
Thursday, April 24, 2008
Dikotomi Politisi Tua Lawan Politisi Muda Menyesatkan
Demikian disampaikan anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Tosari Wijaya di depan mahasiswa Indonesia di Honolulu, Hawaii, Rabu sore waktu setempat (23/4) atau Kamis siang waktu Indonesia.
Alat ukur utama untuk menilai seorang politisi, sebut dia, adalah komitmen, bukan usia.
Sikapnya ini, sebut Tosari, dia sampaikan bukan untuk membela politisi berusia tua, juga bukan untuk mengecilkan peranan politisi berusia muda. Tosari sendiri mengatakan dirinya sudah berkomitmen tidak akan mencalonkan diri dalam Pemilu 2009 mendatang. Dengan demikian, periode 2004-2009 adalah periode terakhir dia berkantor sebagai anggota DPR.
Tosari juga mengatakan dirinya pernah melakukan penelitian kecil mengenai produktifitas DPR periode 1999-2004 dan periode 2004-2009. Dari penelitian kecil ini dia menyimpulkan bahwa DPR periode 1999-2004 lebih produktif dibandingkan DPR periode 2004-2009.
Setelah diteliti lebih lanjut, akhirnya ia tiba pada dugaan jangan-jangan produktifitas yang turun ini akibat DPR periode 2004-2009 diisi oleh “orang-orang muda”. Hanya sekitar 20 persen anggota DPR periode 2004-2009 adalah anggota DPR periode sebelumnya, kata Tosari.
“Gagasan untuk mendorong politisi muda sudah bagus. Saya setuju. Tetapi politik dan sikap politik diukur dari komitmen. Tidak semata-mata dari faktor usia. Dan usia muda belum tentu reformis,” sebut dia.
Pertanyaan mengenai upaya mendorong politisi muda disampaikan oleh Pramono U. Tanthowi, mahasiwa program Ilmu Politik University of Hawaii at Manoa (UHM). Menurut Pramono sejauh ini hanya Partai Amanat Nasional (PAN) yang memiliki aturan jelas tentang pembatasan periode anggota DPR. Pembatasan ini, sebut dia diharapkan menghasilkan regenerasi politik yang sehat di tubuh partai berlambang matahari itu.
Tosari Wijaya dan beberapa anggota DPR lainnya mengjungi Hawaii untuk mengikuti workshop demokrasi yang digelar House Democracy Assistance Commission sebuah lembaga di bawah DPR Amerika Serikat. Workshop ini akan berlanjut di Washington D.C. akhir pekan ini.
Selain Tosari, delegasi DPR-RI juga diperkuat oleh Theo Sambuaga, Marzuki Darussman, dan Antarini Malik dari Golkar, serta Abdillah Toha dan Djoko Susilo dari Partai Amanat Nasional (PAN), serta anggota Komisi IV Ujiati Tosari Wijaya. [Teguh Santosa, dikutip dari www.myrmnews.com]
Bantah Pemekaran Aceh, Djoko Tegaskan MoU Helsinki Perjanjian Maksimal
Begitu ditegaskan anggota Komisi I DPR-RI Djoko Susilo dalam pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Honolulu, Hawaii, Rabu sore waktu setempat (23/4) atau Kamis siang waktu Indonesia.
Djoko mengatakan, kabar yang menyebutkan bahwa DPR menyetujui pembentukan provinsi baru di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam sama sekali tidak benar. Dia membenarkan bahwa bulan lalu DPR menampung aspirasi dari ratusan kepala desa Aceh yang meminta agar pemerintah pusat memekarkan Aceh dengan membentuk dua provinsi baru, yakni provinsi Aceh Leuser Antara dan Aceh Barat Selatan (Abas).
Namun sejauh ini sama sekali belum ada pembicaraan di DPR untuk menyetujui usul itu. Ada banyak syarat untuk membentuk sebuah daerah baru, antara lain syarat persetujuan dari daerah induk. Tanpa syarat-syarat ini, usul pembentukan sebuah daerah tidak bisa dilakukan, kata anggota Fraksi Partai Amanat Nasional ini.
“Jadi, sampai sekarang posisi fraksi-fraksi di DPR pun masih ngerem untuk membentuk provinsi baru (di Aceh), bahkan mendorong agar bagaimana UU PA berlaku secara lebih baik,” ujar Djoko lagi dalam pertemuan yang diselenggarakan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) Hawaii.
Pertanyaan mengenai sikap DPR terhadap usul pemekaran provinsi NAD disampaikan Ari Palawi, mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan pendidikan di program Asian Studies di University of Hawaii at Manoa (UHM). Ari khawatir pemekaran Aceh justru akan merusak perdamaian di Aceh.
Bulan lalu sebanyak 430 kepala desa dari Aceh menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR Senayan, Jakarta, menuntut pembentukan provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (Abas). Dalam demonstrasi itu, para kepala desa ini berniat mengembalikan stempel desa mereka ke DPR.
“Silahkan gantung stempel atau mundur. Kami akan cari pengganti atau langsung digantikan sekretaris desa,” kata Gubernur NAD Irwandi Yusuf menyikapi demonstrasi tersebut.
Irwandi Yusuf mengatakan sama sekali tidak ada alasan yang dapat digunakan untuk mendukung usul pemekaran itu, apalagi bila dikaitkan dengan ketidakadilan dalam hal penyaluran anggaran beralanja daerah. Pemerintah provinsi, sebut dia lagi,
“Tidak ada alasan jika aspirasi pemekaran provinsi di Aceh muncul dengan komplain ketidakadilan. Kalau dikaji dengan pikiran positif, seluruh anggaran untuk kebutuhan belanja daerah dikirim langsung kepada masing-masing kabupaten atau kota,” masih kata Irwandi seperti dikutip dari Harian Aceh.
”Seharusnya masyarakat mempertanyakan kepada kepala pemerintahan di daerahnya kemana dana itu digunakan selama ini, apa untuk pembangunan Atau dinikmati oleh segelintir orang. Seharusnya mereka mempertanyakan hal itu kepada pejabat di derahnya, bukan menuntut pemekaran provinsi,” demikian Irwandi. [Teguh Santosa, ikutip dari www.myrmnews.com]
