Global Rountable perdana digelar hari ini Selasa, 25 September 2008, pukul 12.00-1.15 di Kuykendall 106 dengan fokus Indonesia. Tujuan utama Rountable ini bagi UH adalah untuk lebih memahami berbagai kegiatan penelitian, pengajaran staf dan mahasiswa guna melihat kemungkinan membangun jaringan yang lebih bermakna dan bermafaat.
Ada beberapa hal-hal yang dapat saya tangkap dari acara ini. (1) University of Hawaii punya keinginan dan kepentingan besar untuk menjadi kiblat studi Asia dan Pasifik, termasuk Asia Tenggara; (2) Ada isu budaya birokrasi antara beberapa pihak Indonesia dan UH yang selama ini pernah menjaring kerja sama dengan UH. UH ingin memiliki ikatan kerjasama dalam bentuk konkrit, bukan hanya sekedar tandatangan di atas sehelai kertas yang tidak memiliki dampak aksi riil antar kedua pihak; (3) UH punya ketertarikan untuk lebih banyak eksis dalam kajian masyarakat Muslim di Asia Tenggara, khususnya Indonesia; dan (4) Ikatan kerja sama antara UH dan Indonesia masih tergolong sangat lemah sehingga perlu ada langkah strategis dari kedua
belah pihak. Kerjasama yang ada selama ini masih lebih banyak terjadi pada tingkat inisiatif personal, belum ada dukungan politik secara kolektif.
Untuk mewujudkan kondisi seperti di atas, saya pikir, perlu kajian dan persiapan datang, tidak bisa hanya dengan mengandalkan kunjungan sesaat dan mendadak dari beberapa pejabat Indonesia. Mungkin dari sini terbayang pentingnya memiliki pusat kajian Indonesia dari berbagai aspek dalam lingkungan UH. Salah satu peserta Rountable dari Department of Engeneering menawarkan keinginannya untuk bekerjasama dengan pihak-pihak terkait di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Ada beberapa hal-hal yang dapat saya tangkap dari acara ini. (1) University of Hawaii punya keinginan dan kepentingan besar untuk menjadi kiblat studi Asia dan Pasifik, termasuk Asia Tenggara; (2) Ada isu budaya birokrasi antara beberapa pihak Indonesia dan UH yang selama ini pernah menjaring kerja sama dengan UH. UH ingin memiliki ikatan kerjasama dalam bentuk konkrit, bukan hanya sekedar tandatangan di atas sehelai kertas yang tidak memiliki dampak aksi riil antar kedua pihak; (3) UH punya ketertarikan untuk lebih banyak eksis dalam kajian masyarakat Muslim di Asia Tenggara, khususnya Indonesia; dan (4) Ikatan kerja sama antara UH dan Indonesia masih tergolong sangat lemah sehingga perlu ada langkah strategis dari kedua
belah pihak. Kerjasama yang ada selama ini masih lebih banyak terjadi pada tingkat inisiatif personal, belum ada dukungan politik secara kolektif.
Untuk mewujudkan kondisi seperti di atas, saya pikir, perlu kajian dan persiapan datang, tidak bisa hanya dengan mengandalkan kunjungan sesaat dan mendadak dari beberapa pejabat Indonesia. Mungkin dari sini terbayang pentingnya memiliki pusat kajian Indonesia dari berbagai aspek dalam lingkungan UH. Salah satu peserta Rountable dari Department of Engeneering menawarkan keinginannya untuk bekerjasama dengan pihak-pihak terkait di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

No comments:
Post a Comment